Monday, April 18, 2005

"Kotak Sabun", Kerja Mekanik, dan Dedikasi Buku

Matabaca Vol. 3 No. 8 April 2005

Katakanlah, "seorang penulis itu sudah mati", ketika bukunya sudah berada di khalayak pembaca. Dalam putaran "kedua", pertarungan berikutnya adalah nasib yang akan menentukan: apakah buku tersebut akan diserbu para penggila buku, atau bertahan menumpuk di antara pengunjung yang "dingin" dengan karya tersebut. Mulai dari perbincangan di kedai kopi, hingga resensi buku berkelas pun, tilai-menilai buku punya cerita sendiri. Cara memandang buku dari banyak sisi tentu akan melahirkan sejumlah kritik, tilaian, pujian, cemooh, bahkan caci-maki. Buku bisa menjadi ceracau yang hangat untuk dibincangkan, ,kadang menjadi trauma, atau bahkan bisa pula melahirkan sebuah kontoversi. Mimpi buruk bisa saja terjadi; buku masih berjejalan di rak buku, dan terbuka kemungkinan komentar di sela rehat salah seorang pembaca: “Ooh… Buku itu,” dengan nada yang dingin.

Novita Estiti, tak akan pernah tahu, kalau naskahnya yang dikerjakannya selama berbulan-bulan itu akan berbuntut "sesuatu" yang bisa dinamakan kontroversi. Novelnya yang berjudul Subject: Re ditambahi sebuah label atau stempel atau apalah namanya yang merujuk sebuah genre yang sedang marak di jagat pustaka kita kiwari. Buku yang terbitkan GagasMedia, (November 2004) itu terdapat lingkaran merah bertuliskan: “Chicklit Asli Butan Indonesia” yang bertengger di bagian kiri atas halaman sampul novelnya.

*

Novel yang ditulis Novita cukup unik. Penceritaan novelnya dipaparkan dalam bentuk pos-el (email) dari tokoh utamanya: Nina dan Yudha. Kedua sahabat ini menjadikan pos-el sebagai media untuk berkomunikasi. Dari pos-el inilah cerita dalam novel dibangun. Dengan penceritaan antara dua tokoh ini, kedalam cerita dan penokohan sangat tergali. Kisah manusia urban dan konstelasi konflik yang sangat personal.

Novita punya latarbelakang bekerja di media. Ia pernah bekerja mulai dari proffesi Redaktur Mode dan Kecantikan, sampai desainer grafis. Maka tak heran jika dia begitu fasih menggambarkan konflik dan setting ceritanya dalam novel Subject: Re ini. Meski ia menegaskan berkali-kali bahwa apa yang ditulisnya adalah sebuah karya fiksi belaka.

Setting ceritanya pun manusia-masnuia yang kesepian di rimba raya metropolitan. Manusia urban dengan kelaziman masalah psikis yang kentara, kontras dengan gebyar profesionalisme lingkup kerjanya. Dari Jakarta, Australia, atau entah di manapun ia, kota tetaplah media simpan yang melahirkan banyak kesepian, begitupun Nina dan Yudha. Tema-tema seputar kematian, bunuh diri, ketidakbahagiaan, dan sisi-sisi buruk kehidupan lainnya.

Layaknya sebuah pos-el, chat, atau dialog di dunia maya, tuturan yang ditampilkan padat, santai, intim, dan bertaburan "bahasa gaul". Bisa dipahami mengingat dengan tuturan demikian, novel ini menyajikan senatural mungkin apa yang terjadi di media maya itu. Gaya penyajiannya otomatis dinamis, spontan, penuh lompatan-lompatan kisah, dialog, monolog, ambience, dan tanya-jawab begitu berserakan, menimbulkan mood hipersensitif, yang reaktif bagi pembaca yang terbiasa dengan dunia maya itu.

Ada formula humor yang rapih tergarap, dan sangat menonjol adalah pencapaian egosentrisma dari tokoh Nina dan Yudha. Bukankah memang demikian, ketika kita punya godmother, sahabat pena, soulmate, atau teman curhat yang apalagi media yang digarap adalah sebuah pos-el. Kesan intim, dan eksplorasi ke-"aku"-an itu akan sarat jadinya.

Kalau menimbang-nimbang paparan ini, khusunya dari segi teknis penggarapan bukankah tak jauh beda dengan kondisi mainstream chicklit yang saat ini marak? Cerita anak muda di perkotaan, yang biasanya digarap dengan bahasa yang santai itu.

“Sejak awal saya menyerahkan naskah pada penerbit, saya menegaskan, kalau ini bukanlah chicklit. Saya tidak mau buku ini dilabeli chicklit karena memang bukan chicklit,” katanya tegas. Meski bersikeras mengatakan naskahnya ini bukanlah chicklit, ia segera menambahkan kalau landasan berfikirnya bukan dikarenakan ada semacam trauma terhadap chicklit. Novita pun pernah membaca Shopaholic-nya Sophie Kinsella, misalnya.

Suatu ketika, saat bukunya sudah tercetak dan telah siap menjadi "warga baru" dalam toko buku, Novita sendiri baru tahu adanya label, tepatnya sewaktu hendak mengambil buku di distributor. Jadi, boleh dibilang ini sebuah "kejutan" buat Novita sebagai penulisnya.

Sebenarnya, kejadian ini bukanlah sesuatu yang rumit, meski tak bisa dibilang sepele. Tahapan last proof sebagai media bibit yang akan diperbanyak secara massal harusnya diperlihatkan oleh pihak penerbit pada penulisnya. Kewajiban bagi penerbit, dan hak bagi seorang penulis. Jika sampai tahap berikutnya, dan ini terlewatkan, kedua pihak harusnya menyadari sudah memasuki tahapan yang keliru. Ada tahapan yang terlewati.

Bukankah hak penulis untuk meminta preparate dari last proof baik materi konten naskah, hingga samak sampul buku, itu sudah semacam kerja mekanis antara penulis-penerbit? Bukankah ihkwal tersebut sudah tercetak dalam lembar hitam dan putih kedua pihak?

Apapun alasannya, dengan kotroversi, buku jadi menarik untuk disimak. Peselisihan paham ini kali pertama disiarkan di sebuah milis perbukuan secara sepihak oleh Novita, sebagai penulisnya. Dalam milis Pasarbuku, Novita menyatakan diri sedang berjuang untuk penolakkannya atas label tersebut. Banyak yang simpati, ada juga yang bersikap toleran atas "kebijakan" penerbit.

*

Genre atau penggolongan atas jenis tertentu telah melahirkan sejumlah kepekaan, daya kritis, dan prasangka. Lucas Seifert pernah dihantam saat menuliskan pemikirannya untuk pembagian genre musik yang menurutnya sangat mengecoh. Menurutnya, pembagian jenis tertentu bukanlah jalan terbaik untuk membuat sebuah penilaian atas kerja seni. Menurutnya, seni produk adalah bagian dari arts itu sendiri. Penggolongan itu, tambahnya lagi, hanya rekaan industri belaka. Saat artikelnya dimuat di malajah musik Spin edisi Inggris November 1989 itu, tak kurang disambut 2.375 pucuk surat pembaca yang menyerangnya, belum lagi polemik yang berjalan berbulan-bulan.

Kendati tidak "semeriah" indutri musik, buku pun telah punya kotak-kotak tersendiri. Ada "kotak sabun" yang menyimpan barang layak laku cepat, ada "kotak emas" atau kotak apa pun namanya itu, yang boleh dimasukan karya-karya "serius" dan sebagainya. Semua itu merupakam sebuah pengkategorian; upaya penyarungan atas sebuah karya, di arah berlainannya akan membuka banyak peluang bergulirnya gunjingan kedai kopi, sampai wacana kritis. Ada semacam kasus temuan bagi Novita atas pelabelan itu telah menyebabkan pembaca pria enggan mermbaca novelnya tersebut. Prasangka atas chicklit yang berkonotasi bacaan wanita, dan ringan juga akan menjebak pembaca buku.

Lahirnya "kotak buku" bernama chicklit, teenlit, momlit, homolit, sampai ladlit dan lain sebagainya, tentu menanggung beban sejumlah wacana diskusi yang hangat hingga kini. Sampai meledaknya Bridget Jones Diary garapan Helen Fielding yang melahirkan beragam asumsi, tak kurang sampai kini ada stigma di pasaran buku dunia dengan perangai buku dalam kotak ini. Mereka lahir untuk mengejutkan, dipuja, namun tak sedikit yang alergi dengan "kotak sabun" ini. Memang begitu resikonya sesuatu yang bernada booming, bukan? Dikotomi pro-kontra, cinta-benci, menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan. Bahkan, Marrian Keyes yang dianggap pencetus kontruksi chicklit pun masih punya ruang untuk didiskusikan kembali.

Apa yang digugat oleh Novita sebagai penulis tentu punya banyak cabang perhatian. Dari sudut hukum ada bagian sendiri yang akan membedahnya secara analitik. Bagian ini akan menghasilkan banyak idea dan atas perangai hukum perbukuan kita saat ini. Tentu saja akan menarik bila menggeret masalah ini dengan "pisau" hukum yang berlaku. Namun, dalam artikel ini, juga menyisakan efek yang lain. Dari segi sosial, Novita punya ekses untuk menolak dimasukkan dalam kotak tertentu, yaitu chicklit. Tapi, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, buku dengan label tersebut sudah beredar di pasaran.

Yang perlu digarisbawahi adalah sebuah mekanika kerja kolektif antara penerbit dan penulis buku. Jika sikap kooperatif terjalin, mestinya, kejadian ini musykil akan terjadi. Penerbit yang dibebani tekanan pasar yang sengit, penulis yang dipenuhi semesta raya idealisme, dan kenyataan apa yang terkandung dalam konten buku, seyogyanya bisa jadi rollemodel wilayah kerja kolektif sebuah mekanika industri, bernama industri buku. Terlewatkannya tahapan ini bukanlah semata kesalahan pihak penerbit yang terkesan lalai dan melangkahi aturan, pun, ini cerminan untuk kondisi penulis kita sekarang yang seharusnya lebih gesit, tanggap, dan paham persoalan penerbitan. Saat ini, masih terasa ada jeda roaming bahasa antara penulis dengan penerbit.

Bila saja rundown antara editor, atau pendisain (kaver) buku dengan penulis dalam kondisi ketergesaan jadwal yang padat dan taktis waktu yang rapat oleh ‘mulut harimau’ percetakan. Toh, dengan sejumlah tools (media internet/alat komunikasi) kerja mekanik itu bukan hanya akan mempermudah medan kerja, tapi, mengatasi sekecil mungkin peluang kealfaan ini, misalnya. Juga proses chemical reaction (antara penulis-editor/penerbit) bisa mengurangi sejumlah peluang resiko semacam ini.

Dalam pasar pendapat dalam milis tersebut, Manneke Budiman (pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UI) mengatakan kalau penerbit bukunya sangat terobsesi untuk membuat buku ini laris. Meski bagi penulisnya, Manneke menyarankan untuk membuka diri. Toh, jika ini dinilai sebagai chicklit akan terbuka peluang pendapat: “ini chicklit yang berbeda”. Begitupun Anwar Holid (editor sebuah penerbitan dan sekarang kolomnis di Harian Republika) dalam tanggapan berikutnya, menyarankan penulisnya agar baik-baik saja. Toh, tulis Holid di milis itu, tidak semua harapan penulis akan bukunya terpenuhi.

Dalam kasus ini, Novita pun menyadari adanya sebuah "keuntungan", jika bisa disebut demikian. Setelah masalah ini diangkat ke bebagai media, terutama dari blog pribadi, sejumlah pos-el di milis, dan press release yang di edarkan saat roadshow, bukunya banyak dicari orang, dari sekedar ingin mengetahui sampai yang membeli.

Penulis dan pengotakan bukan hanya akan terjadi dalam kasus Novita , John Grisham misalnya, novelis yang kerap menuliskan kisah-kisah friksi dunia peradilan sempat berang ketika sebuah review untuk bukunya Skipping Christmas dalam The Guardian dinyatakan sebagai buku anak-anak. Grisham beranggapan ini adalah novel dewasa, dan menurutnya, review itu bisa menyesatkan pembaca dan menggeser pasaran bukunya. Tapi yang terjadi, buku Skipping Christmas ludes mendekati 700.000 eksemplar.

Saat itu orang menduga Grisham mencari perhatian ketika ia dinilai mandek untuk menuliskan cerita-cerita sebrilian The Firm, A Time To A Kill, atau The Street Lawyer. Belum sempat sidang pembaca menyaksikan silang selisih antara penulis dan kritikus, lalu juru bicaranya menyalip, menyatakan Grisham berterimakasih atas apresiasi yang sangat dalam atas karyanya. Khalayak langsung dingin, dan cerita ini berangsur-angsur lenyap tanpa bekas.

Lain Grisham, lain pula Sophie Kinsella, si ikon chicklit. Ia harus bersikap menerima ketika gembar-gembor siaran televisi ABC yang menyambut novel Shopaholic & Sister-nya masuk dalam kotak teenlit, bukan chicklit.

“Saya adalah penulis buku. Dedikasi itu punya ruang yang sangat luas. Dedikasi menulis, seperti membuat makaroni. Apa kesukaanmu? Dengan lada hitam? Kompromi saya adalah bagaimana membuatnya lezat untuk makan malam. Jadi saya biarkan mereka yang menikmati,” tutur komentarnya dalam siaran yang sama di keesokan harinya. Padahal dalam siaran itu bukunya itu dianggap meracuni anak-anak muda usia remaja menjadi pelaku "kanibalistis" dunia belanja. Sepertinya, Kinsella acuh bukan karena dia mengalah dengan kritik tersebut.

Dari kedua contoh tersebut, rasanya sikap berserah diri pada sidang pembaca rasanya cukup adil, bukan?

Dewi Rohkmawati, alumnus Psikologi UI, pengelola situs sriti.com, tinggal di Jakarta

Tuesday, March 15, 2005

More Review

by beyondsky

When I picked up my copy of Novita Estiti's Subject: Re:, I had a somewhat high expectation. I first found out about the book when it was first released via Novita's post on Blogbugs mailing list. In her post, she complained about the misleading "ChickLit" label displayed on the cover of the book without her consent, and asked comments on the issue. Having no access to the actual book (I was still in Sydney at the time), I had to be satisfied by reading excerpts provided by the author on her blog. After reading the excerpts, not only that I agree that the "ChickLit" label is misleading, but I also became interested in the book itself. When I went to Gramedia a few days ago, the first thing I did was to head to the ChickLit section (I can't help to smirk), and picked up my copy.

I have less reading time now that I'm in Jakarta, but I managed to finished the book this morning. My impression? The book passed my high expectation. I think the reason for this is because I can relate in many ways to both characters, Nina and Yudha. From my perspective, the book talks about boredom with life in general. Whether it is boredom due to the routine of doing the same things over and over again, or because of the routine of constantly changing activities or jobs (which ironically is intended to avoid boredom in the first place). The storyline and the relationship development between the two characters also highlight what seems to be my theme of the month: "The unexpected turns of life."

Not only the story that intrigues me, but also the way of delivery. The book was formatted as a log of some sort, compiling online conversations between Nina and Yudha (eg: emails and messenger logs). I can relate to their mindless ramblings, as I've done it many times through my blog and previously, email. True to the current 'questionaires' trend, both Nina and Yudha filled out this somewhat useless but strangely fun activity. However, it was one of Nina's answer that caught my eyes. The question was "What are your future goals?" -- Nina's answer: "No goals in the future. I can't imagine the future." (p.88). As long as I can remember, I have never read a book with this much connection with myself.

Sometimes the reality can be harsh, and always unpredictable. Subject: Re: succeeds to portray the imperfections in life.

- THANK YOU VERY MUCH -

Sunday, February 13, 2005

An Article in Sriti.com

Apakah Anda pernah membayangkan, buku yang ditulis selama berbulan-bulan itu ternyata jadi laris manis, dipuja-puji banyak kritikus. Kalau pertanyaan ini mudah dijawab, bagaimana dengan pertanyaan lain: pernahkan membayangkan buku yang berbulan-bulan ditulis itu ternyata jadi kontroversi. Wah, yang ini pasti harus ditanya lanjutan pertanyaannya, kontroversi yang bagaimanakah itu? Kalau cuma salah cover atau menolak dikategorikan genre tertentu, apa jadinya?

Kontroversi itu memang bisa diciptakan, bisa juga lahir begitu saja secara natural. Apapun alasannya, dengan kotroversi buku jadi menarik untuk disimak. Baru-baru kali ini hangat sekali perbincangan soal pe-label-an buku milik Novita Estiti atas bukunya yang berjudul Subject: Re dari penerbit GagasMedia tahun terbitan, November 2004. Kontroversi itu terjadi lantaran penulisnya menolak dengan label bertuliskan “ChickLit Asli Buatan Indonesia”. Kesannya sepele, namun menyimpan banyak tanda tanya dan gugah cerita yang masih terselubung hingga saat ini.

Dalam sebuah penjajakan reportase, kami dari Sriti.com bisa mengorek segala keterangan dari penulisnya, Novita Estiti. Hanya dengan sejumlah cara kami ‘tewas’ tak sanggup mendapatkan satu pernyataanpun dari pihak penerbitnya, GagasMedia. Kami tak akan menyatakan mereka ‘ngumpet’ dari kasus ini; karena itu begitu menyesatkan pembaca, percayalah, yang kami tujukan tadinya hanya keterangan dua sisi yang sebenarnya akan sanggup membuat artikel ini mengkilat. Sayang, kami terlalu payah…

Berikut adalah sejumlah dialog yang HANYA kami peroleh dari pihak penulisnya, Novita Estiti. Semoga ada semacam pencerahan kecil dari belibetnya kasus pelabelan ini. Anda bisa menganggap ini pernyataan pribadi penulisnya, tapi, kalau teliti lagi, ini semacam stimulus untuk lebih akrab dengan persoalan perbukuan saat ini, kalau penulis kadang punya posisi yang sangat lemah.

Akhir kata, selamat menikmati.

***

Keterangan: Q=Pertanyaan, A=Jawaban


--------------------------------------------------------------------------------
1) Bisa diceritain singkat secara kronologisnya, saat Novita menyerahkan naskah ke penerbit?
A: Setelah naskah selesai, saya menelepon GagasMedia dan menawarkan naskah pada mereka. Waktu itu saya berhubungan dengan Bpk. Tanudi dari Agromedia, salah satu divisi di penerbitan tersebut. Kemudian Bpk. Tanudi meminta saya mengirimkan naskah. Tanggapan dari GagasMedia cukup cepat, tidak sampai sebulan kemudian mereka menghubungi saya. Saya bertemu dengan pemimpin redaksi penerbit, untuk membicarakan masalah kontrak, editing, dan lain-lain. Dari meeting-meeting awal, saya sudah beberapa kali menegaskan bahwa karya ini bukan chicklit.

2) Apakah ada pasal dari perjanjian/kontrak yang menjadi dasar ‘gugatan’ Novita sebagai penulis menolak pe-label-an ini?
A: Dalam kontrak terdapat sebuah pasal yang berbunyi:

“Sebelum cetak perbanyak (massal), PIHAK PERTAMA wajib meneliti terlebih dahulu naskah bersih hasil suntingan/cetak/coba/semacamnya sekurangnya satu kali dan kemudian membubuhi persetujuan cetaknya. Dan apabila oleh karena satu alasan PIHAK PERTAMA tidak dapat melakukannya kewajiban tersebut maka PIHAK KEDUA dengan itikad baik akan melaksanakan sendiri hal-hal tersebut. Kondisi ini selain untuk efisiensi waktu juga menghemat biaya penerbitan naskah tersebut.”

Dalam kasus saya, tidak sekalipun saya pernah melihat hasil suntingan akhir (last proof) sebelum naik cetak. Padahal sewaktu menyerahkan naskah, beberapa kali saya menegaskan bahwa saya harus melihat dahulu last proof tersebut.

3) Q. kapan pertama kali Novita melihat ada label chicklit dalam buku jadi?
A: Saya baru tahu adanya label tersebut sewaktu mengambil buku di distributor. Jadi cukup merupakan ‘kejutan’ buat saya saat membuka bungkus coklat dan menemukan label tersebut. Desain cover memang pernah diperlihatkan, karena desain seperti itu juga merupakan kompromi saya dengan penerbit (saya menyatakan bahwa saya tidak ingin cover warna-warni yang bahagia khas chicklit). Tetapi pada desain cover yang diperlihatkan pada saya -dan saya setujui- tidak ada label chicklit atau label apapun. Tambahan tersebut baru dilakukan penerbit kemudian, dan seperti yang saya jawab di point 2, last proof tidak pernah diperlihatkan kepada saya.

4) Q: Ketika Novita ‘protes’ apa tanggapan penerbit?
A: Setelah melihat label tersebut, saya segera mengadakan pertemuan dengan penerbit untuk membicarakan masalah tersebut. Selain label chicklit, ada beberapa hal yang menjadi ganjalan, ada beberapa kesalahan editing dan sensor pada beberapa kata. Menurut penerbit, sensor tersebut perlu dilakukan untuk memastikan bahwa karya ini bisa diterima di toko buku manapun. Kemudian soal label, mereka menjelaskan bahwa ini semata-mata strategi marketing. Saya mengerti dasar-dasar argumentasi ini, walau tidak menyetujuinya. Yang menjadi masalah adalah, karena saya tidak pernah berkesempatan melihat last proof, maka saya jadi tidak punya kesempatan untuk berpikir-pikir.

4) Q.Menurut Novita apa dengan label tersebut akan merugikan?
A: Kerugian label chicklit adalah hilangnya sebagian (besar) target pembaca saya. Karena konotasi chicklit yang terutama berarti bacaan wanita, tentu banyak pembaca pria yang enggan membaca atau bahkan sekedar menyentuhnya. Chicklit juga berkaitan erat dengan bacaan ringan, sedangkan Subject: Re -pada pendapat saya- sama sekali bukan bacaan ringan (saya rasa pendapat ini benar, karena Subject: Re bicara banyak soal kematian, bunuh diri, ketidakbahagiaan, dan sisi-sisi buruk kehidupan). Jadi mereka yang membeli buku ini dengan harapan mendapatkan bacaan ringan menghibur, akan kecewa dan menganggap novel Subject: Re: adalah chicklit yang buruk (yang tentu saja benar). Hal ini juga dibenarkan oleh seorang pembaca saya (Julian, Rizal - red), seorang pria yang hampir urung membeli novel ini karena melihat label chicklit-nya.

5) Q: Atau, ada keuntungan yang ternyata dirasakan setelah ada label itu?
A: Keuntungannya, jika bisa disebut demikian, mungkin datang setelah masalah ini saya angkat ke berbagai media. Karena kebetulan saya menggemari teknologi, saya membuat blog sendiri untuk novel ini berisi cuplikan, komentar, berita, dan lain-lain. Di situ saya juga menulis tentang masalah pe-label-an ini. Saya juga mengirim email ke beberapa milist, serta mengirimkan buku beserta press release berisi penjelasan saya ke beberapa media. Tentu saya sadar bahwa ini bisa jadi ‘black marketing’ di mana saya menggunakan kontroversi atas sesuatu untuk mendorong publikasi novel. Tapi saya pikir, daripada novel saya dibiarkan ‘tersesat’ di rak chicklit di toko buku, lebih baik saya sendiri yang berusaha melakukan sesuatu. Dengan beberapa cara yang saya lakukan di atas, ternyata cukup banyak tanggapan yang masuk baik melalui email pribadi maupun ke blog tersebut. Ada juga yang tertarik membeli setelah membaca ’ribut-ribut’ ini.

6) Q: Mengapa Novita bersikeras tidak mau ini di-label-kan sebagai chicklit?
A: Saya tidak mau buku ini dilabeli chiklit karena memang ini BUKAN chicklit. Tidak ada trauma apapun terhadap chicklit. Saya mengakui bahwa saya bukan penggemar chiklit, walau membaca juga Shopaholic-nya Sophie Kinsella. Tetapi ketidakgemaran saya kepada chicklit adalah semata-mata soal selera saja. Definisi saya pada novel ini ya novel fiksi saja. Mungkin -buat beberapa orang- kurang spesifik, tetapi memang demikian halnya. Saman itu novel fiksi, Larung, Jalan Tak Ada Ujung, Dadaisme, Catcher in The Rye, semua itu definisinya novel fiksi saja.

7) Q:Apakah Novita merasa terjebak dengan kasus pe-label-an ini?
A:Saya mengakui sedikit merasa terjebak pada posisi saya. Penerbit memang sudah menawarkan untuk mengganti desain cover secara keseluruhan pada cetakan kedua dan seterusnya. Mereka tetap bertahan dengan (sejumlah) sensor, kali ini karena alasan moralitas penerbit (yang membuat saya bertanya-tanya juga, kalau memang demikian moralitasnya, seharusnya dari awal jangan menerima naskah saya lalu menyensornya tanpa pemberitahuan).

8) Q:.Menurut Novita,apakah penulis sangat lemah/ rentan di dalam kasus ini?
A: Saya tidak tahu bagaimana di penerbitan lain. Tetapi dalam hal ini, saya memang merasa posisi saya sebagai penulis cukup lemah. Saya tidak diberi kesempatan melihat last proof sehingga terjadi hal-hal ini.

10) Q: Selama proses ‘roadshow’ ke daerah-daerah, apa ada tanggapan dari pembaca soal pe-lebel-an itu..?
A: Saat roadshow ke daerah-daerah, saya membiasakan diri untuk memberikan press release mengenai Subject: Re bukan chicklit kepada audience. Hal ini terutama dilakukan di Yogyakarta dan Solo. Sewaktu di Bandung, saya baru melakukannya secara verbal saja. Sewaktu di Solo, ternyata ada beberapa orang yang sudah membaca, dan mereka setuju bahwa novel ini tidak bisa dilabeli chicklit.

***

Dewi Rokhimawati, alumnus Psikologi UI, Pecinta Buku, Tinggal di Jakarta.

Dalam kesempatan mendatang, rekan Sjaiful Masri akan lebih menyoroti isi buku dengan gaya yang lebih segar, dan tentunya hanya ada di Sriti.com.

Lebih lanjut, silakan masuk ke : http://subjectre.blogspot.com

Friday, February 11, 2005

More Comments from Readers

"... if the chick lit stamp is a marketing gimmick, then it did a wonderful job of shoo-ing me away at first (then again, i guess I'm not the target market). But the line at the Gramedia cashier was so long that, out of boredom, I picked up the book and read the comments on the back cover.

Thank God I did, and thank God I bought and read the book. Just wanna say thank you for this brave, honest, and VERY relatable piece of work. Really, I've never found a story and characters that I can relate to THIS much in a long, long time. I'm telling you, I can relate to your story and your characters even to the smallest word. There are words in your book that I remember thinking them. Exactly word by word...."
-- from Rizal (by email)

"WHAT A NICE NOVEL!!! Dalemmmm banget... Tapi mnurut saya, novel ini realita banget kok. Memang bener, terkadang ada org yg takut akan dirinya sendiri, kejujuran akan dirinya, jiwanya...."
-- from Arien (by email)

"All my life there's only one book that can make my eyes full of tears, yours. It reflects my deepest thought of life itself."
-- from Danni Junus (by sms).

"love your book
thank you for being so bluntly honest
thank you for asking all those questions outloud
and
thank you for not trying to answer them for us."
-- from anita (by email)

"I don't usually buy your kind of writings, but I find it 'devastatingly' beautiful, honest and so everyday-life.....Bisa aja gw yg jadi si 'Yudha', tapi ya ndak se-miserable dia sih...."
-- from Benny (by Friendster)

"I love it. I simply do. The way you tell the stories through the emails and chats of two people... is just amazing. Sometimes you don't know how much those short conversations over emails and chat can and can't convey. It gives the illusion that you know someone, yet not knowing that person. And also the way you tell it, make you question whether the lives you read are yours and those related to you, or only fictions. Or am I actually reading my life?"
-- from Meta (by email).

"...membaca novel anda, saya seperti berperang dengan diri sendiri. antara ingin menaruhnya di sudut rak buku saya, atau melahapnya sampai tuntas. untungnya, keinginan kedua yg menang. mungkin, saya termasuk orang yang tidak bahagia tetapi pura-pura bahagia. saya bahagia--what a beautiful lie!"
-- from Windy (by email)

Tuesday, January 25, 2005

From A Discussion in the ResensiBuku Mailing List

From: "Eliza"
Date: Tue Jan 25, 2005 1:13 am
Subject: Re: [ResensiBuku] Subject: Re:

Poppy :
----cut
Ada satu komentar di belakang buku dari Eliza Dewi yg menyebutkan '...power dari buku ini: realita yg jujur.' Serem amat sih kalo jujurnya kaya begini? Jadi banyak toh orang2 yg kaya begini di dunia? Haaaah?? Jadi penasaran, Mbak Novita ini riset dimana Mbak? Emang punya temen2 yg kaya gini atau malah pengalaman pribadi? Hehehe... mudah2an nggak
ya?
----cut

Dessy :
----cut
buat yang ngerasa buku ini beraura negatif, setidaknya buku ini menggedor hati untuk melihat sebuah generasi yang tersembunyi. terlepas apakah masyarakat menolak, menerima, atau memusuhi, tokoh2 seperti dgn cara hidup dan cara pandang seperti ini 100% nyata dan ada.
----cut

Saya bisa memberikan komentar seperti itu, ya karena saya pikir buku ini mengangkat realita yang sudah ada di Indonesia. Saya kurang lebih juga setuju dengan komentar Dessy yang menyinggung soal generasi tersembunyi. Meskipun sebenarnya sih nggak tersembunyi2 amat. Hanya barangkali masyarakat kita banyak yang memilih untuk pura2 tidak tahu tentang mereka.

Waktu saya membaca Subject: Re:, saya menebak bahwa setidaknya novel ini akan menimbulkan dua reaksi. Yang tersentuh dan merasa novel ini "gue banget . Atau yang choose to ignore dan lari kembali ke sudut nyamannya. Saya tidak merasa salah satu reaksi ini ada yang salah. Toh, dua2nya bisa dimaklumi. Reaksi yang pertama wajar, karena sering orang bisa mendapat penghiburan dari orang yang jalan pikirannya atau pengalamannya mirip. Reaksi yang kedua juga wajar, karena bagaimanapun kamu pasti sedikit kaget kalo berbenturan dengan dunia yang begitu lain dengan duniamu. Apalagi kalo gaya pengungkapannya begitu jujur seperti dalam novel ini.

Bagi saya, novel ini cuma mau jujur. Meskipun yang diangkat dunia yang gelap Tapi toh jujur, tidak dibuat2. Begitu ya begitu. Meskipun resikonya ya terima reaksi2 yang agak keras. Yah, jujur itu sudah jadi barang langka sekarang ini. =)

Eliza Dewi - sealthewriter
http://sianjinglaut.blogspot.com

Monday, January 24, 2005

From A Discussion in the ResensiBuku Mailing List

From: Dessy Yasmita
Date: Mon Jan 24, 2005 2:48 am
Subject: Subject: Re: -- a voice from the Hidden Generations

akhirnya berhasil juga baca Subject:Re dan saya sendiri bakal bilang, "Buku ini gue banget!" Mungkin karena selama ini saya juga hidup dari internet, mulai dr imel, chatting, sampe nge-blog, jadi dunia yang diceritakan Estiti itu deket banget dengan kehidupan internet yang saya tau.

buat yang ngerasa buku ini beraura negatif, setidaknya buku ini menggedor hati untuk melihat sebuah generasi yang tersembunyi. terlepas apakah masyarakat menolak, menerima, atau memusuhi, tokoh2 seperti dgn cara hidup dan cara pandang seperti ini 100% nyata dan ada.

Bahwa tidak ada problem solving terhadap pertanyaan2 filosofis (ttg ketidakbahagiaan, kebosanan, dll) yg terbangun dalam kedua karakter ini, menurut saya itu bukan masalah. toh plotting2 actionnya sudah terselesaikan (keputusan utk hamil, cerai, berselingkuh, putus dr perselingkuhan, dll). soalnya pertanyaan filosofis kan memiliki jawaban yg sangat luas dan dengan mengetahui ketidakbahagiaan itu apa, mungkin kita bisa bertanya pada diri sendiri: kebahagiaan itu apa? Dan cukup hati kita saja yang menjawabnya.

anyway, it's a good book. scene-scene-nya terasa cepat dan lompatan waktunya juga cepat tapi ngalirnya enak. obrolannya fokus dan to the point.

jauh sebelum bukunya terbit, saya sudah direkomendasikan oleh teman saya untuk membaca buku ini dan saya setuju buku ini bukan chicklit. Estiti, maju terooosss! ;)

D.

From A Discussion in the ResensiBuku Mailing List

From: "Poppy"
Date: Sun Jan 23, 2005 12:57 am
Subject: Subject: Re:

Udah selesai baca Subject: Re:. Wuidiiiiih....ini buku bener2 bikin depresi. Ceritanya tentang dua orang yg sama2 gak pernah bisa nikmatin idup, e-mail2an, dan buku ini isinya kumpulan e-mail mereka dan hasil chatting. Tapi Mbak Novita boleh juga lho, bisa menerangkan karakter kedua orang ini dan cerita kehidupan mereka hanya dari isi e-mail mereka.

Ada satu komentar di belakang buku dari Eliza Dewi yg menyebutkan '...power dari buku ini: realita yg jujur.' Serem amat sih kalo jujurnya kaya begini? Jadi banyak toh orang2 yg kaya begini di dunia? Haaaah?? Jadi penasaran, Mbak Novita ini riset dimana Mbak? Emang punya temen2 yg kaya gini atau malah pengalaman pribadi? Hehehe... mudah2an nggak ya?

Kalo gue setelah baca punya kesimpulan bahwa kedua tokoh ini: egois, gak bahagia (of course!), negative thinking, introvert, menjurus ke suicidal, cenderung atheis, nggak melek mata soal dunia yg indah (katanya), dll dsb yg serem2. Jadinya gue belajar juga bahwa orang2 kaya gini pikirannya seperti ini ya? How pathetic! Gue jadi amat sangat bersyukur bahwa gue gak pernah punya masalah seperti kedua tokoh ini dan gak pernah ketemu orang2 seperti mereka.

Salut buat Mbak Novita. Dengan setting cerita hanya e-mail, jadinya gak perlu tuh mengikuti peraturan bhs Indo yg baik dan benar. Salah tulis atau salah eja juga sah2 aja. Bacanya enak, tapi sambil merinding.

This is not my kind of book, actually. Tapi seneng juga udah pernah baca. Dan memang bukan CHICKLIT! Ayo, Mbak Novita, perangi orang2 yg mau mengkategorikan buku ini sebagai chicklit! Seperti kata Tya, chicklit sebetulnya jangan dikasih label 'literature', cukup 'fiction' aja kali ya Tya? Tapi Subject: Re: menurut gue pantas dimasukin kategori literature, walaupun gak ngikutin estetika tata bahasa.

Poppy

From A Discussion in the ResensiBuku Mailing List

From: "nurul rahmani eliana"
Date: Thu Jan 20, 2005 10:56 am
Subject: Subject : Re :

wah, saya agak gak menikmati baca buku ini, gak tau ya? energinya terlalu negatif gitu, tapi mungkin emang mau pengarangnya ya?

ceritanya ttg dua orang yg punya hubungan, gak jelas juga pertemanan atau apa, tapi mereka merasa saling membutuhkan, dan cerita dibangun dlm email2 dan script chat berdua, bagi mereka gak ada yg harus dirahasiain selama mereka tetap berhubungan seperti itu, nah awal2 cerita saya udah mo nyerah aja ngebacanya, abis puyeng, banyak pertanyaan2 mereka yg dalem bgt, tapi gak pernah terjawab, semuanya hanya mungkin...mungkin...dan mungkin..., jadi mereka kayaknya sibuk dgn diri sendiri aja.

lalu cerita terus berlanjut, dan sampai saatnya mereka akhirnya punya hubungan yg lebih dalam, dan ternyata...hal itu juga gak ngebuat mereka lebih bahagia, selalu ada aja hal yg yah...merasuki pikiran mereka, so lama2 jadi malah gak seakrab waktu cuma temenan lewat cyberspace doang.

kalo saya liat2 sih, kayaknya mereka berdua jenis orang yg agak2 kurang bersyukur, means...gak menghargai apa yg udah mereka dpt, tapi terus menyesali apa yg gak pernah bisa diraih, kasian sih...tapi mereka juga tipe yg gak mau dikasihani kayaknya hehehe, maunya sih mereka jadi orang yg unpredictable, yg beda aja dari orang kebanyakan, tapi jadinya malah menyengsarakan diri sendiri, atau mungkin gak?

bagi mereka lebih baik gak seperti orang lain yg munafik kali ya? jadi jujur2an aja gitu, tapi mereka sendiri sebenernya takut kalo kejujuran itu bakalan nyakitin diri sendiri, dan finally kayaknya memang iya.

gak ada salahnya baca ini novel, kalo emang sukanya baca yg rada2 filosofis, tapi mungkin this is not my kind of book ya? di akhir2 aja saya baru ngerasain yg mau pengarangnya kasih tau, telat bgt gak? jadi silahkan menilai sendiri deh...

anyway i thank kang usen buat hadiah buku ini...

thanx
nana

btw...soal buku ini, aku pernah liat debatnya di milis lain, n ngomongin soal label chicklit nya, well... i think ini kalo dibilang chicklit, pasti berat bgt, tapi aku pernah juga baca chicklit yg isinya agak kayak gini, walau gak negatip2 amat siy!

no hard feelings siy, aku agak2 gak percaya ada orang yg punya sifat bener kayak si nina (main character) di kenyataannya, mungkin ada but i havent meet them, may b...

soal bentuk penulisannya, aku hanya agak bingung pas baca yg dlm bentuk script chatting itu, suka kebolak2 mana yg ngomong nina, mana yg yudha (kalo gak liat id nya), that's all deh!

nana

From A Discussion in the ResensiBuku Mailing List

From: "Ferina Permatasari"
Date: Mon Jan 17, 2005 4:45 pm
Subject: Subject: Re:

"Ini hanyalah
sepotong kehidupan
dua orang yang tak pernah bahagia
dan berusaha percaya
bahwa
mereka telah saling menemukan"

Kata-kata di atas adalah pengantar dari novel Subject: Re:, dan kata-kata tersebut juga yang mempengaruhiku untuk membaca buku ini. Seolah menyindir kita akan keyakinan kita dalam menentukan suatu pilihan.

Subject: Re: mengisahkan tentang kehidupan dua anak muda yang merasa hidup mereka terjebak dalam rutinitas yang membosankan.

Nina, seorang perempuan muda, freelancer di sejumlah majalah mode, merasa hidupnya itu hanya 'begitu-begitu' saja, justru dia lebih suka ketika sedang menganggur karena bebas melakukan apa yang dia mau. Sampai akhirnya dia harus menikah karena hamil di luar nikah dengan pacarnya yang berusia lebih muda darinya. Satu-satunya kebahagiaan yang dirasakan Nina, adalah ketika sedang bersama anaknya, ditemani anjing kesayangannya.

Sedangkan, Yudha, mahasiswa S3 yang memperoleh beasiswa di Australia, tinggal seatap dengan pacar bulenya, Claire, juga punysa perasaan yang tidak jauh beda dengan Nina, merasa bingung dengan tujuan akan tujuan hidupnya.

Percakapan/komunikasi antara mereka berdua yang ditampilkan dalam bentuk e-mail dan chatting, menggambarkan bagaiman dalamnya rasa keputusasaan, ketidakbahagiaan dan kebosanan yang mereka berdua rasakan. Bahkan, begitu putus asanya Nina, sampai pernah membuat rencana 'gila' untuk bunih diri. Kita bisa tersenyum pahit dengan cara penyampaian yang santai, padahal yang sedang dibicarakan adalah rencana bunuh diri.

Sampai pada akhirnya, mereka merasakan suatu ketertarikan, mereka berdua merasa cocok satu sama lain, merasa sudah "menemukan satu sama lain". Akhirnya, timbulah apa yang disebut Yudha dengan 'perselingkuhan rasa', dan jadi perselingkuhan yang sebenarnya.

Nina, pun bercerai dengan suaminya, dan Yudha putus Claire. Mereka memutuskan untuk mencoba 'jalan' bersama.

Tapi ternyata, kecocokan itupun harus berakhir dengan suatu ketidakbahagian. Kesalahan 'kecil' menyebabkan kesalahpahaman, kemudian menjadi pertengkaran, yang berbuntut pada perpisahan, seolah mereka menyadari bahwa ada perbedaan yang cukup prinsip dalam diri mereka.

Percakapan yang lugas dan blak-blakan menjadi kekuatan novel ini. Tapi, seandainya novel ini ditulis dalam bentuk narasi biasa, bisa jadi membosankan. Tulisan dalam bentuk e-mail dan chatting menjadi keunikan tersendiri dari novel ini. Sepintas sempat terpikir, "Jangan-jangan ini memang pengalaman pribadinya Novita, nih.."


-ferina-

Monday, January 17, 2005

From Republika, Sunday Edition

Minggu, 16 Januari 2005

Tidak Semua Penulis Tergoda

Popularitas chicklit dan teenlit ternyata tidak membuat semua penulis tergoda. Setidaknya, begitulah yang coba ditunjukkan Novita Estiti dalam karyanya, Subject:Re. Saat banyak orang berlomba-lomba untuk menulis chicklit, Novita malah mencak-mencak dengan stempel 'chicklit asli buatan Indonesia' yang ada di sampul bukunya.

Sejak awal, Subject:Re, yang diterbitkan Gagas Media, tidak pernah dimaksudkan sebagai chicklit. ''Stempel itu dicantumkan tanpa sepengetahuan saya,'' kata Novita. Menurutnya, seperti dikutip dari blogspotnya, novelnya tidak dapat masuk ke dalam definisi genre chicklit.

Subject:Re bercerita tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan, dengan proporsi yang sama besar. Tidak melulu bercerita tentang tokoh wanitanya. Tokoh wanitanya pun sudah menikah dan memiliki anak. Sedangkan chicklit, salah satu persyaratan utamanya adalah status lajang sang tokoh utama wanita.

Menurut Novita, cara penulisan Subject:Re pun sama sekali tidak dimaksudkan bersifat ringan dan menghibur. ''Dan yang paling utama, cerita ini tidak berkisah semata tentang kehidupan sehari-hari, tapi lebih kepada isu-isu yang mendalam dalam,'' jelasnya.

Menurut Novita, pihak Gagas Media mengakui bahwa stempel tersebut adalah tehnik pemasaran semata. Stempel chicklit diharapkan dapat memacu angka penjualan. Pihak Gagas Media sendiri berjanji tidak akan menyertakan stempel tersebut pada cetakan selanjutnya.

Menurut Novita, penolakannya terhadap stempel tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan citra chicklit ringan. ''Jangan salah, saya suka kok baca chicklit. Saya punya beberapa,'' tuturnya. Ia hanya tak mau mengecilkan sasaran pasarnya. Dengan stempel tersebut, Subject:Re kehilangan beberapa pembeli utamanya.

(mg07)